"Selamat datang di Kabupaten Majene"

Suspendisse interdum consectetur libero id. Fermentum leo vel orci porta non. Euismod viverra nibh cras pulvinar suspen.

VCO, Produk Unggulan Kelapa yang Potensial

21 Januari 2020 Dilihat 70 kali megawati

VCO, Produk Unggulan Kelapa yang Potensial

Kelapa merupakan salah satu potensi dan komoditas yang menjadi tulang punggung perekonomian di daerah Mandar, baik itu di Polewali maupun di Majene.

Ketersedian kelapa yang melimpah menjadikan daerah ini menjadi salah satu pemasok kelapa dan produk turunannya ke berbagai daerah, seperti buah kelapa tua yang dikirim ke Makassar dan Balikpapan, kopra, tempurung kelapa yang sampai diekspor  ke luar negeri, sabut yang dipergunakan oleh masyarakat lokal untuk memanggang ikan, minyak goreng kelapa yang tetap diminiati oleh masyarakat ditengah banyaknya minyak berbahan sawit, dan berbagai produk olahan kelapa lainnya.

Ketersediaan kelapa melimpah di Mandar

Salah satu produk olahan kelapa yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah VCO (Virgin Coconut Oil), atau minyak kelapa murni. VCO diekstrak dari kelapa yang masih segar tanpa menggunakan tambahan bahan kimia dan tanpa suhu tinggi.

Salah satu yang telah mengembangkan VCO di Majene adalah Jeremy Hicks dan Indro Wibowo dibawah naungan CV. Indokaluku. Perusahaan yang memulai produksi tahun 2017 ini menggunakan metode DME (Direct Micro Expelling).

“Banyak metode untuk membuat VCO, dari permentasi sampai sentrifugal, masing-masing memiliki kelebihan kekurangan, kami menggunakan metode DME karena metode ini yang paling cocok dengan kualitas dan kapasitas produksi yang kami inginkan,” kata Jeremi Hicks, konsultan pemasaran CV. Indokaluku.

Jeremy Hicks, konsultan pemasaran CV Indokaluku

“Dengan metode ini, proses produksi berlangsung cepat hanya dibutuhkan waktu sekira 1 Jam, sehingga kemungkinan teroksidasi dan terkontimanasi bakteri lebih kecil, efisiensi juga lebih baik artinya dengan jumlah bahan baku sama, dapat menghasilkan lebih banyak minyak daripada metode lain, disamping itu minyak yang dihasilkan memiliki daya tahan lebih lama sebelum berbau tengik,” lanjutnya.

“untuk metode DME ini, diperlukan modal awal sekira Rp250-300juta, sudah termasuk mesin produksi, pendirian bangunan, dan modal untuk pembelian kelapa. Mesin parut dan mesin peras kami datangkan dari Australia sedangkan alat sangrai kami beli dari Surabaya,” jelasnya.

Proses pemarutan kelapa dengan mesin

“Pabrik kami berkapasitas 2 Ton perbulan dengan rata-rata produksi 650-700liter per bulan sesuai permintaan pasar,” tambahnya.

Dengan metode DME, proses dimulai dengan pengupasan sabut kelapa, kemudian dibelah, belahan kelapa kemudian ditempelkan ke mesin parut khusus yang dapat memarut kelapa tanpa perlu melepaskan tempurungnya, dalam proses pemarutan ini, kulit daging kelapa tidak boleh terikut untuk menghasilkan VCO yang lebih berkualitas, hasil parutan selanjutnya disangrai di pemanggang berukuran sekira 1,5 X 5 meter selama sekira 45 menit, setelah itu baru kemudian diperas dan disaring sampai menghasilkan VCO.

Proses sangrai kelapa yang sudah diparut

Untuk menghasilkan minyak VCO lebih banyak, CV Indokaluku lebih memilih kelapa jenis hybrida dari pada kelapa biasa.

“Dengan parutan kelapa seberat 3,5Kg, hybrida bisa menghasilkan 1 liter bahkan lebih sementara kelapa biasa tidak,” jelas Indro Wibowo, direktur CV Indokaluku.

Indro Wibowo, direktur CV Indokaluku

“Keuntungan lain menggunakan hybrida adalah kami tidak perlu bersaing dengan pembeli kelapa lain, karena ukuran hybrida yang kecil tidak sesuai untuk dijual sebagai kelapa utuh atau dibikin kopra, jadi usaha kami ini cukup membantu petani kelapa hybrida,” tambahnya.

VCO yang dihasilkan CV Indokaluku selanjutnya dipasarkan dengan merek Siola dalam berbagai ukuran, untuk pasar lokal dipasarkan dalam ukuran 250ml seharga Rp40ribu, kemasan 1 liter seharga Rp135ribu dipasarkan secara online, dan untuk partai besar dipasarkan dalam jerigen ukuran 20 liter.

Proses pemerasan minyak VCO dari parutan kelapa yang sudah disangrai

“Konsumen luar negeri dan turis di Bali menggunakan VCO sebagai minyak goreng, disamping juga digunakan sebagai lotion dioleskan ke kulit, sedangkan konsumen lokal terbatas digunakan hanya untuk medis dan kesehatan, mengingat harganya yang jauh lebih mahal dibandingkan minyak goreng sawit atau kelapa” kata Jeremy.

“Di Indonesia kebanyakan digunakan untuk diet, sebagai sumber tenaga akibat mengurangi konsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat, sebetulnya VCO dipercaya memiliki banyak kegunaan medis lain, seperti memperlancar BAB, mengurangi kadar gula penderita diabetes, sampai mencegah alzheimer, meskipun belum terbukti secara medis,” jelasnya.

Proses pengemasan minyak VCO

Dibalik berbagai keunggulan dan potensi tersebut, usaha produksi VCO tentu tak lepas dari kendala.

“Kendala utama adalah pasar yang sangat fluktuatif, terkadang pesanan banyak sampai tidak mampu kami tangani tiba-tiba drop sama sekali tidak ada pesanan,” kata jeremy.

“Sebetulnya pasar ekspor masih terbuka lebar, tapi dengan kapasitas pabrik kami 2 Ton perbulan, kita akan rugi di ongkos kirim, solusinya kita harus mampu mengisi kontainer sendiri, tapi dengan kapasitas 2 Ton bisa-bisa dibutuhkan waktu sampai 9 bulan untuk mengisi kontainer, jadi idealnya ada 10 pabrik dengan kapasitas yang sama yang bersedia bekerjasama untuk mengisi kontainer baru kita bisa melakukan ekspor,” jelas Jeremy.

Share on:

Pemerintah Kabupaten Majene