Ketua DPRD Paparkan Sejarah Penetapan Hari Jadi Majene 474 Tahun Silam
Puncak peringatan hari jadi Majene ke-474 dilangsungkan di Pendopo Rumah Jabatan Bupati dengan menggelar rapat paripurna istimewa DPRD Kabupaten Majene, Kamis 15 Agustus 2019. Hingga tahun ini, peringatan serupa sudah diadakan sebanyak 5 kali sejak 2015.

Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat menghadiri acara tersebut diantaranya Sekda Sulawesi Barat Muhammad Idris DP mewakili Gubernur, Bupati Majene Fahmi Massiara, Wakil Bupati Lukman, Ketua DPRD Majene Darmansyah, Sekda Majene Andi Syukri Tammalele, Bupati dan Wakil Bupati Majene Sebelumnya, Wakil Bupati Kota Baru, Mara’dia-mara’dia, anggota-anggota DPRD, dan unsur Forkopimda Majene dan Sulawesi Barat. Para tamu yang hadir baik pria maupun wanita hampir semuanya mengenakan pakaian tradisional.


Acara dibuka dengan tarian Marromai (menyambut), yang dibawakan oleh 12 orang gadis penari berbalut sarung sutera motif kotak berwarna merah hitam dengan atasan baju adat transparan berwarna merah muda. Diiringi tabuhan gendang dan tiupan keke khas musik tradisional Mandar, para penari dengan membawa pammenangang (semacam piring dari logam untuk upacara dan ritual) berisi beras, sesekali menghamburkan beras ke udara sebagai simbol penyambutan kepada tamu, mirip seperti yang biasa kita saksikan dalam penyambutan tamu rombongan pengantin. Mendengarkan alunan musik tradisional, menyaksikan tarian budaya, dan dan berada dikerumunan orang-orang yang mengenakan pakaian adat seakan mampu membawa kita untuk menyelami romantisme dan keanggunan sejarah masa lampau.
Ketua DPRD Majene Darmansyah yang membuka acara, memaparkan dengan cukup terperinci mengenai sejarah penetapan tanggal 15 Agustus 474 tahun silam sebagai hari jadi Majene.
Menurutnya, penetapan 1545 sebagai tahun dimulainya hari jadi Majene tidak mengacu pada pendirian atau dilantiknya raja pertama di Majene, tetapi mengacu pada zaman keemasan pemerintahan tradisional di wilayah Majene, indikator masa keemasan dimaksud diantaranya :
- Tahun 1545, Pelabuhan Ba’bawulo dan Pangaliali telah menjadi tempat strategis kegiatan perekonomian. Pada tahun tersebut, Raja Pambauang (kini Pamboang) Daeng Palewa Tomelake’ Bulawang telah menjalin hubungan dagang dengan Portugis. Klaim ini diperkuat dengan keterangan seorang Portugis, Antonio de Peiva, yang datang ke Mandar tahun 1544, dalam suratnya kepada Gubernur Portugis di Maluku, dia mengaku terhalang oleh orang melayu yang ada di Durate, yang diyakini kini merupakan wilayah Sendana, sekitar 30 km dari Majene.
- Tahun 1511- 1545 adalah masa gencarnya penyebaran Islam ke Tanah Mandar yang dibawa oleh orang Melayu. Oleh masyarakat lokal penyiar agama itu disebut Tosalama.
- Tahun 1545, kata Majene sudah dikenal di beberapa kerajaan Nusantara, misalnya Kerajaan Gowa-Tallo’ di Sulawesi Selatan. Dalam Lontar I Macan Keboka Pada tahun tersebut, Raja Gowa Daeng Matanre’ memerintahkan anak buahnya ke Majene untuk membantu orang Majene menghadapi ancaman bajak laut dari Tidung, salah satu suku di Kalimantan yang berasal dari Sulu, Filipina.
Untuk bulan, Agustus ditetapkan sebagai bulan hari jadi Majene dengan alasan pada bulan tersebut dilakukan perlawanan secara fisik terhadap penjajah Belanda oleh I Calo Ammana I Wewang bersama Ammana I Pattolawali, tepatnya 6 Agustus 1906, setelah shalat subuh, mereka berdua memimpin pejuang menyerbu rumah Residen dan Tangsi Militer Belanda di Passanggarahan dan Pangali-ali.
Sedangkan tanggal 15 ditetapkan sebagai tanggal hari jadi Majene merunut pada tanggal ditetapkannya Majene sebagai ibukota Afdeling (kabupaten) Mandar oleh pemerintah Hindia Belanda.


Setelah sambutan Ketua DPR Majene, acara dilanjutkan dengan atraksi budaya berupa tari Pattu’du yang dibawakan oleh 15 gadis penari yang mengenakan pakaian tradisional berwarna biru. Tari Pattu’du adalah tarian tradisional Mandar yang sudah sangat terkenal. Konon dahulunya, tari ini merupakan tarian yang dilakukan untuk menyambut pasukan yang pulang dari medan perang.

Atraksi budaya dilanjutkan dengan prosesi Massossor Tomanurung Tallu Banua Kaiyyang, yaitu prosesi pembersihan benda pusaka dari 3 Banua Kaiyyang (mungkin dapat diartikan pemukiman besar pada masa lampau) di daerah Kecamatan Malunda saat ini yaitu Tomakaka di Lombang, Mara’dia di Mekkatta, dan Pappuangan di Malunda’. Benda pusaka yang disossor tersebut berupa 3 keris pusaka dari 3 Banua Kaiyyang diatas yang masing-masing bernama Tarra’da’ Daung dari Lombang, Tingara Bulang dari Mekkatta, dan Sekkapa’ja dari Malunda’. Cara Massossornya adalah dengan mengoleskan belahan jeruk nipis untuk menghilangkan karat dan kotoran lainnya yang melekat pada benda pusaka, setelah itu kemudian dilap dengan serutan bambu atau pelepah kelapa. Sebelum disossor ketiga keris tersebut terlebih dahulu diasapi dengan asap kemenyan.

Sesudah prosesi massossor, wali dari 3 Banua Kaiyyang diatas melakukan atraksi budaya yang disebut Memannang, semacam sumpah atau janji yang diucapkan oleh punggawa kerajaan di depan raja yang menyatakan kesiap-siagaan dan kesanggupan dari prajurit untuk mempertahankan negeri dan adat dari ancaman baik dari luar maupun dari dalam. Dengan keris terhunus, salah satu wali banua kaiyyang mengucapkan kesigapannya yang kemudian dibenarkan oleh yang lain dengan berteriak Tongang (betul) sambil menghantamkan tombaknya ke lantai. Gestur dan kata-kata yang diucapkan pemannang terlihat begitu heroik dan emosional.

Setelah semua atraksi budaya selesai, dilakukan penyematan pin kepada 7 anggota DPRD Majene Pergantian Antar Waktu 2014-2019, yang disematkan oleh Bupati Majene Fahmi Massiara, dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan kepada seluruh anggota DPRD Majene masa jabatan 2014-2019.
Dalam kesempatan yang sama juga dilakukan penyerahan secara simbolis 1 kunci mobil Daihatsu Grand Max dari Bank Sulselbar kepada Pemkab Majene.
Tak ketinggalan, Bupati Fahmi Massiara juga meyampaikan sambutan yang diselingi dengan beberapa bait pantun dan kalinda’da. Setelahnya, Sekprov Sulbar Muhammad Idris DP mewakili Gubernur juga memberikan kata sambutan.

Akhirnya, 3 buah lagu daerah, Bura’ Lattighi, Mesa Kanne’, dan Tengga-tenggallopi menjadi penutup acara puncak peringatan hari jadi Majene yang ke-474.